Ashimoto…-3-

18 06 2009

Koko ni itekurete..1” Suara lembut di belakangku membuat langkahku tertegun. Seketika dadaku terasa panas, rasanya darah yang terpompa oleh jantungku mendidih dan menyayat pembuluh darahku bagaikan lahar panas. Derasnya hujan yang menghantam tubuhku seakan luruhan air mendidih membakar kulitku.

Kupejamkan mataku…dengan segenap jiwaku kutahan keinginanku untuk membalikkan tubuhku dan menghadapi gadis yang baru saja mengeluarkan kata-kata yang membuat hatiku berdenyut menyakitkan… Kuharap suara petir yang menyambar dan tetesan hujan di rumput sekelilingku dapat menyembunyikan teriakan memilukan jiwa ini..

Aku tetap berdiri dalam diam…mencoba mengatur nafasku yang mulai tak beraturan…Dan aku mendengarnya….Meskipun ia mencoba menahan tangisnya, namun bisa kurasakan keputus asaan dari isakan lembutnya. Aku mulai goyah..Pertahananku hampir jebol. Suara tetes-tetes hujan yang mengguyur rumput-rumput di sekelilingku seakan menertawakan kelemahanku..Cahaya kilat yang menari-nari di langit seakan tersenyum puas melihat ketidak berdayaanku.. Namun sekali lagi kukatupkan erat-erat jari-jariku ke dalam telapak tanganku Aku pun menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku di antara rambutku yang sudah basah dan jatuh terkulai lemas seperti tirai yang menutupi sebuah kebohongan besar di dalamnya..

Kufokuskan indra pendengaranku pada suara hujan yang mengguyur bumi. Kututup rapat indra imajinasiku yang membayangkan wajah rapuh gadis di belakangku..gadis yang berhasil memutarbalikkan isi organ-organ di tubuhku ketika menatapnya….gadis yang mampu menarik sel-sel yang ada di tiap jengkal tubuhku hanya dengan huruf-huruf yang ia lantunkan dari bibirnya..gadis yang sesungguhnya ingin kumiliki.

“Aku mohon..setidaknya jujurlah pada dirimu sendiri..jujurlah dalam membaca perasaanmu..jujurlah dalam mengartikan hatimu…” gadis itu kembali bersuara. Suaranya yang lembut terdengar merintih..seperti suara manusia yang tidak berdaya dan memohon belas kasihan orang yang paling keji. Dan orang yang keji itu…adalah aku.

Lagi-lagi aku tetap diam..mencoba mempertahankan jejakan kakiku pada dalamnya genangan air yang mulai meresap masuk membasahi kakiku.Diam-diam kunikmati dinginnya air yang menyentuh jari-jariku. Mencoba mencari ketenangan jiwa di antara pertengkaran yang terjadi di dalam otakku. Berusaha melawan musuh besarku dengan akal sehatku.Ya, aku harus melawan diriku sendiri dengan akal sehatku. Aku harus mampu merobek harapan kosong ini menjadi sebuah realita, aku harus bisa meleburkan hasrat gila ini menjadi abu-abu fakta yang hancur berkeping-keping.

“Kenapa?Kenapa kamu melakukan ini semua padaku?Apa ada yang salah denganku?” Tangisnya kini tak sanggup ia bendung. Suaranya bergetar, mengoyak sisa-sisa jiwaku yang telah retak dan tak bernyawa. Isakannya semakin jelas menyelusup ke ruang-ruang hampa tubuhku. Kali ini aku membuka mataku..Memberanikan diri menatap bayangan yang terpantul samar di antara genangan air di hadapanku. Kupicingkan mataku, mencoba melindungi bola mataku dari aliran air hujan yang membuat mataku perih. Dan bayangan itu pun terlihat..bayangan sesosok laki-laki menyedihkan yang hanya bisa diam dan berdiri kaku di tengah serbuan hujan. Yang hanya sanggup lari..lari dari sebuah keputusan dan resiko. Lari karena ketakutannya..bersembunyi dari kekalahannya..Bayangan itu balik menatapku. Dan seketika aku merasa jijik..jijik melihat sosok menyedihkan itu. Kupalingkan wajahku, dan menatap lurus ke depan. Menantang kekosongan di hadapanku.

Jalan di hadapanku begitu lengang..Taman itu seakan tak memiliki kehidupan.Tak ada satu sosok pun yang rela membiarkan dirinya terguyur hujan yang turun tanpa ampun . Hanya ada bangku taman kosong di sampingku yang berpijak tenang. Kayunya tampak lapuk dan ringkih. Catnya mengelupas, seakan menyatakan bahwa keberadaanya sudah menahun  dan telah bertahan dari terpaan musim-musim yang berganti. Selebihnya..hanya jalan memanjang yang terbentang..Dengan pagar taman di kanan kiri yang membatasi tempatku berdiri dengan  rumput hijau yang berwarna hijau gelap karena ternaungi mendungnya langit. Pohon-pohon rindang di  seberang pagar berayun sendu, membiarkan dirinya dibuai angin yang bersiul. Aku kembali menatap jalan di hadapanku. Mencoba mencari ujung dari jalan ini. Mencoba melawan penglihatanku yang semakin kabur. Berharap..entah bagaimana caranya, aku bisa bisa tiba disana. Sampai di akhir jalan itu, menyelesaikan semuanya..Menyudahi semuanya..Bersembunyi dari semua ini.

Aku pun sadar. Akulah yang harus menyelesaikannya..tak peduli bagaimana akhirnya, bagaimana permulaannya, bagaimana perjalanannya. Akulah yang harus memilih dan memutuskan..meski aku tau, jika aku melakukannya.. kebencian pada nyawa ini tidak akan pernah berakhir. Lagi..aku menatap bangku taman yang kosong itu. Berusaha mencari-cari kekuatan semu yang ada di balik kerapuhannya.. Kekuatan untuk melukainya. Kekuatan untuk menjadi makhluk Tuhan yang paling hina.

Kutahan nafasku selama 3 detik, berharap udara di dalam paru-paruku dapat mengisi kekosongan jiwaku. Berharap oksigen yang terkumpul di dalam tubuhku dapat mengokohkan tekad dan keberanianku.Berharap suara-suara yang menyambar di kepalaku dapat terkunci diam dan tak bergerak.

“Gomenne….2

Singkat..Kukuatkan suaraku meski terdengar sedikit gemetar Hanya itu yang sanggup menari keluar dari mulutku. Hanya sebuah kata itu yang mampu kususun di dalam otakku yang tak henti-hentinya meraung.Lalu kulangkahkan kakiku yang berat ini menjauh darinya..Dan sayup-sayup kudengar rintihan memilukan itu kian menjauh..Dan diantara rinai hujan yang dingin dan membasahi wajahku, dapat kurasakan setetes rasa hangat yang mengalir diantaranya..

———————————————————————————————————————————————————————————–

Tokyo, Juni 2004

Seperti biasa, aku terbangun oleh alarm telepon genggamku dengan rasa sakit kepalaku yang kian menjadi. Tanpa mengangkat kepalaku dari empuknya bantal, tangan kananku menggapai-gapai setengah hati ke meja kecil di sebelah ranjangku. Dan aku menemukannya, sumber dari bunyi yang membangunkanku di tiap pagi. Bunyi yang menandakan mulainya  realita kehidupan.Bunyi yang selalu menyadarkanku dari kabut mimpi yang selalu menemaniku selama 2 tahun..Bunyi yang menyelamatkanku dari mimpi yang selalu berakhir sama. Bunyi yang seakan selalu memaki jalan hidupku. Kuraih telepon genggamku dan kumatikan alarmnya.

Aku tidak segera bangun dari posisiku. Kubiarkan diriku terbungkus dalam balutan hangatnya selimut untuk beberapa menit. Mataku menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih terang. Sensasi yang sangat kusukai. Rasanya semua lelah, masalah, ketidak pastian, dan segala emosi seperti terserap habis oleh warna putih itu. Kulirik jam dinding yang kacanya sudah retak itu di dinding sebelah kanan kamarku. Jam 07.50. Namun tampaknya langit belum mau mengijinkan matahari untuk menyembul sempurna di balik awan-awan. Mendung…dan akan hujan. Argh…aku benci Tsuyu3.

Aku pun bangkit dari posisi malasku. Aku masih memiliki waktu sekitar 45 menit untuk bersiap-siap. Acara pembekalan untuk mahasiswa tingkat 5 sebelum memasuki clinical training akan dilakukan pukul 09.00. Untung saja apartemenku sangat dekat dengan kampusku, 10 menit berjalan saja aku sudah tiba di kampusku. Dengan langkah sedikit terhuyung aku berjalan menuju dapur. Hampir saja aku tersandung buku-buku teks rujukan yang kubiarkan berserakan di lantai kamarku.Kubuka laci dapur, dan kuambil satu sachet kopi instan dan menyeduhnya. Sediaan kopiku tinggal 1 sachet lagi, aku lupa pergi ke mini market untuk membeli keperluanku setelah 2 bulan penuh disibukkan oleh penelitian ilmiahku. Aku benar-benar dikejar waktu pada waktu itu. Laporan penelitianku harus selesai dalam tenggat waktu 2 bulan, kalau tidak aku tidak bisa meneruskan pendidikanku ke jenjang clinical training..

Selama 2 bulan yang kulakukan hanya bolak-balik kampus, apartemen, perpustakaan dan sesekali menghadap dosen pembimbing. Rasanya lega sekali setelah menyelesaikan laporan penelitianku dan disetujui oleh dosen pembimbing. 3 minggu yang lalu aku pun akhirnya melaksanakan sidang dan Alhamdulillah aku lulus sidang dengan predikat cumlaude.

Tapi kelegaan itu sebenarnya belum sepenuhnya. Karena meskipun aku telah lulus sidang dengan nilai yang alhamdulillah cukup pada pre-clinic years. Aku masih harus berjuang lagi di clinical training, atau biasa mahasiswa di sini menyebutnya masa internship. Dan justru inilah perjuangan yang sebenarnya. Aku harus bisa menggunakan segala ilmu yang telah kutelan selama 4 tahun di University of Tokyo, Faculty of Medicine secara aplikatif kepada pasien. Inilah saat-saat pembuktianku. Saat-saat dimana semua obsesi dan ambisiku semakin dekat dan dapat segera kuraih dengan tanganku. Saat-saat di mana segala pilihan yang kutetapkan dapat membuahkan hasil yang nyata. Saat-saat dimana aku bisa membungkam semua mulut yang mencibir dan meragukan kredibilitasku sebagai mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa untuk mengenyam pendidikan di negara matahari terbit karena tetesan keringat sendiri. Mereka selalu menganggap segala kemudahan dalam pendidikanku dapat aku raih dengan mudah karena ayahku adalah salah seorang penting di negaraku. Mereka pikir, aku akan menghamburkan kekayaan orang tuaku untuk mendapatkan semua yang aku mau. Tapi nyatanya, aku justru menolak untuk berkuliah di universitas negeri terbaik di negaraku meskipun rektor dari universitas itu adalah rekan ayahku. Aku justru ngotot untuk mengajukan beasiswa ke universitas di negara lain. Alasannya? Selain karena memang aku ingin membuktikan kemampuanku berprestasi dengan ”kekuatanku sendiri”, aku juga ingin bebas. Bebas dari segala belenggu kehidupan yang menjijikkan. Bebas dari tatapan orang-orang yang memandangku seakan aku anak yang butuh kasih sayang dan perhatian. Bebas dari keharusan untuk menyaksikan perempuan yang silih berganti datang ke rumahku. Bebas dari segala imajinasi kotor yang menghantui tentang bagaimana ayahku memuaskan nafsunya dengan menghamburkan harta-hartanya untuk wanita-wanita hina yang mengemis dan rela menyuguhkan tubuhnya hanya untuk secarik kertas cek.

Kulirik jam dinding di dapur. Pukul 08.15. Segera kuhirup sisa kopiku, dan kuletakkan cangkir kopiku di dekat wastafel bersama tumpukan pring-pring dan gelas-gelas yang masih sangat kotor. Aku memutuskan untuk mencucinya sepulang dari kampus saja. Keputusan yang sama di hari-hari sebelumnya. Kuambil handuk dari lemari pakaianku dan aku segera mandi.

Jam menunjukkan pukul 08.30. Kubuka lemari pakaianku dan kucari pakaian yang selalu menggodaku untuk mengenakannya setiap kali aku membuka lemari sambil berusaha mengenakan arloji. Dan sekarang aku benar-benar boleh mengenakannya. Bahkan wajib mengenakannya. Aku pun menemukannya. Berkilat penuh kemenangan di antara jas-jas dan jaketku yang sebagian besar berwarna gelap. Aku tak bisa menahan senyum.Akhirnya…….

Kuambil snelyku yang masih sangat bersih dan mulus itu. Rasanya baru kemarin aku melalui proses yang panjang demi mendapatkan beasiswa dari universitas terbaik di Jepang ini. Aku harus mengikuti kursus bahasa jepang selama setahun setiap pulang sekolah, aku harus bolak-balik Tokyo – Jakarta untuk mengikuti tes seleksi yang diadakan Association of International Education, Japan (AIEJ) di Tokyo, juga Japanese Language Proficiency Test. Kemudian aku harus mengikuti wawancara dan tes selanjutnya yang diadakan University of Tokyo. Bnear-benar proses yang panjang. Aku pun tadinya tidak percaya akan mendapatkan beasiswa dari universitas ini. Namun tampaknya Allah memudahkan jalan untukku. Dan aku ingat betul, rasanya organ-organ di tubuhku melemah saking tak percayanya ketika kubuka emailku dan membaca pemberitahuan yang menyatakan  bahwa aku berhasil mendapatkan program beasiswa di Fakultas Kedokteran University of Tokyo ini.

Dering telepon genggamku lagi-lagi mengagetkanku. Kulipat snelyku dengan hati-hati lalu memasukkannya ke dalam tasku. Lalu kujawab segera dering telepon genggamku tanpa melihat siapa yang meneleponku.

Moshi-moshi..4

”Yaa Satya ..doko ni oru n?? 5” suara di seberang telepon menjawab dengan logat Kansainya yang kental. Aku langsung mengenali suaranya.

Boku wa mada apaato de. Doushita no, Kazuo ?6” jawabku seraya memasukkan organizer dan buku petunjuk internshipku ke dalam tas.

Aku sudah bicara dengan pamanku mengenai ketertarikanmu mengikuti penelitian departemen cardiothoracic surgery tentang Aortic Root Replacement. ..…” Suara Kazuo terdengar agak sedikit berteriak karena dia harus mengimbangi keramaian suara di sekelilingnya. Dari keramaiannya aku bisa menebak Kazuo sudah tiba di aula kampus, tempat di mana acara pembekalan akan berlangsung.

Jantungku berdetak kencang mendengar berita yang disampaikan Kazuo. Rasanya antara takut dan tak sabar mendengar kelanjutannya.

Soshite…?7“ tanyaku ragu-ragu.

Pamanku kemudian membaca CVmu dan dia tertarik, apalagi setelah melihat transkrip nilaimu. Dan coba tebak…siang ini,, dia ingin menemuimu” katanya riang.

hontou ka yo??8” dengan susah payah aku berkata..rasanya semua udara terperangkap di dalam kerongkonganku.

“So-9jadi setelah pembekalan nanti, kamu ikut denganku. Kita akan makan siang dengan pamanku.” tambahnya

”Alhamdulillah…….. Sore wa subarashii !Arigatou na..10 ” aku tersenyum sumringah. Aku sangat bersyukur paman dari Kazuo yang merupakan staf departemen bedah thorax dan cardiovascular di The University Hospital mau meluangkan waktunya untuk bertemu denganku yang hanya merupakan seorang mahasiswa dari Indonesia yang masih menjalani internship dan memiliki mimpi untuk menjadi Dokter Bedah Thorax dan Kardiovaskular. Semangatku pagi itu langsung membumbung tinggi.

Ah..tak usah berterima kasih. Kita kan teman..dan kamu pantas mendapatkan kesempatan itu. Kamu kan salah satu  mahasiswa cemerlang. Dan usahamu selama inilah yang membuahkan hasil. Ya sudah..cepat kamu kesini. 15 menit lagi acara akan dimulai. Isoge yo! 11Kata-kata Kazuo menyadarkanku untuk segera berangkat ke kampus. Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi kepada Kazuo aku segera meraih tasku dari meja.

Dan seperti biasa, aku kembali termangu sejenak ketika melihat benda itu. Benda yang selalu menetap di meja belajarku. Benda yang selalu ada ketika aku terikat pada kesendirianku. Benda yang selalu mengingatkanku akan ketetapan hatiku, tujuanku, dan tekadku. Sebuah bingkai foto kayu yang telah lapuk yang didalamnya terdapat foto wanita muda dan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 6 tahun di sebuah taman yang rindang. Wanita itu tersenyum lepas seraya mengangkat anak laki-laki itu setinggi-tingginya. Senyumnya menenangkan jiwaku yang telah rusak. Tawanya menyejukkan hatiku yang telah mati.

Aku menatap foto itu lekat-lekat, dan tersenyum pada wanita di foto itu. Wanita yang menjadi alasanku bertahan di sini. Yang membuatku memilih untuk sampai disini. Mengejar mimpiku..meraih obsesiku. Yang melahirkan ambisiku untuk menjadi seorang ahli bedah thorax dan kardiovaskular. Wanita yang paling kurindukan, Ibuku.

Dari jendela kamarku, awan sudah mulai meneteskan rintik-rintik hujan yang semakin deras. Aku memutuskan untuk mengambil payung yang sesungguhnya sudah tak layak pakai lagi karena kawat-kawatnya sudah mencuat keluar yang biasa kuletakkan di dekat pintu. Kemudian aku pun beranjak dengan mantap. Kuputar gagang pintu apartemenku dan janji itupun kuucapkan lagi diam-diam di dalam hati. Aku akan mendapatkan tujuanku. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku selain Allah. Aku tidak akan berhenti mengerahkan seluruh tenaga dan tiap tetes keringatku untuk mendapatkannya. Walaupun waktuku tak banyak..Meskipun aku tidak tau apakah aku akan sempat mengumandangkannya dengan lantang..

*bersambung

– Rasphamelsia–

1 ”Tetaplah disini”

2 ”Maaf”

3 Musim Hujan di Jepang yang berlangsung dari sekitar bulan Mei hingga Juli.

4 Halo

5 ”Satya, kamu ada dimana?”

6 ”Aku masih di Apartemen, ada apa Kazuo?”

7  ”Lalu?”

8 ”Kamu serius?”

9 ”Sungguh..”

10 ”Itu kabar yang sangat menggembirakan! Terimakasih ya”

11 ” Ayo cepat!”





Ashimoto…..-2-

17 06 2009

Sebelum sempat bertemu pandang dengannya, tubuhku merosot dan hati ini menciut jadi kerdil, sekerdil-kerdilnya. Tanpa berpikir panjang, aku berbalik badan dan menarik gagang pintu sekali lagi, kali ini bukan untuk masuk namun mengembalikan jejak-jejakku ke tempatnya semula.

Aku tak peduli sepengecut apa diri ini yang tiada mampu menghadapi dirinya. Kupaksakan kaki ini untuk berpacu cepat dengan waktu, membiarkan hawa dingin merasuk dan menusuk kulit, hingga menembus tulangku yang rapuh. Tapi, ternyata hati ini jauh lebih rapuh, melapuk hingga ke dasar-dasarnya yang terkecil.

Aku merasakan diriku hendak jatuh, namun aku terlalu malu untuk jatuh. Akhirnya, aku sedikit bergembira ketika tahu telah sampai di sebuah taman, yang kutahu akan kutempuh dua kali lebih lama daripada sekarang di waktu-waktu biasa.

Saat berhasil mencapai bangku taman, aku memegang dada. Jantungku terasa telah bekerja keras, detaknya menyentakkanku dari ketakutan ini. Sambil menghela nafas sejenak, aku terdiam dan berusaha untuk tetap diam. Hening…

Seketika udara sekitar memiliki daya mahadahsyat yang sekonyong-konyong menyedotku. Hampa sekali rasanya pikiranku dan memori masa lalu pun tersingkap kembali…

Jakarta, Juni 2004.

Akhirnya, aku lulus SMA!! Alhamdulillah, tiga tahun yang panjang, melelahkan, namun juga menyenangkan telah dilalui! Perjuangan panjang yang benar-benar memberikan hasil sempurna. Pagi ini, aku bangun dengan wajar setelah tidur yang juga lelap seperti biasa. Tak ada firasat apapun tentang hari ini. Yang kutahu, hari ini adalah pengumuman kelulusan.

Aku tidak perlu tegang dan deg-deg-an walaupun ada sedikit rasa penasaran di benakku. Aku tahu siswa-siswa di sekolahku juga “seharusnya” tidak perlu takut, toh mereka sudah berani mencontek ketika ujian nasional. Pengawasnya pun berpura-pura tidak tahu. Sungguh perilaku yang memalukan.

Apa sih mau mereka? Ingin mendamprat keluhuran dunia pendidikan sepertinya. Jujur, aku muak dengan kebodohan watak para manusia yang tidak percaya pada dirinya sendiri, juga dengan merendahkan harga dirinya demi nilai yang seadanya. Mengorbankan waktu yang mereka sudah gunakan untuk belajar hanya karena krisis kepercayaan diri! Hahaha. Tawa sarkastis lagi-lagi muncul dari dalam pikiranku.

Entah kapan manusia-manusia ini dapat berpikir 100 tahun lebih maju. Yang kutahu lagi, rasanya hal ini sudah jadi budaya yang patut “dibanggakan”. Kalau alasannya solidaritas, aku pikir ini merupakan solidaritas terapuh yang pernah kusaksikan seumur hidupku!

Benar saja, ketika pengumuman kelulusan digaungkan, semua siswa sekolahku berhasil lulus. Entah dengan cara apa mungkin tidak ada yang peduli lagi. Aku hanya berlalu dengan senyum kecut.

Belum lagi selesai kepala sekolahku bicara, teman-temanku sudah berhamburan bersorak-sorai gembira. Mereka tahu hari ini adalah akhir dari segala penantian selama sebulan setelah ujian. Aku dapat mengerti karena aku juga merasa seperti telah terbebaskan dari kekang yang menjerat.

Aku ingin bebas..

Bebas mengarungi hidup dengan caraku sendiri..
Bebas berkelana mencari tujuan yang belum kudapatkan..

Dengan lantah gontai, aku sampai juga ke mobil. Supirku kelihatannya sudah lelah menunggu. Sambil berusaha duduk di mobil, aku merasa begitu lelah. Aku bersandar di kursi mobil. Terdiam sebentar, akhirnya tangisku pecah tak tertahankan lagi.

Dunia yang berputar di sekitarku seolah terlalu kejam..
Atau mungkinkah aku yang terlalu kejam pada diriku sendiri?

Tiga tahun ini aku terlalu memaksakan diriku untuk bekerja keras, memutar otak, dan setia menghabiskan waktu dengan buku. Teman-temanku datang dan pergi silih berganti, aku tak ambil pusing. Aku tahu pada saatnya nanti akan kutemukan pertemanan sejati yang tidak hanya datang saat suka, tapi juga seharusnya ada saat duka.

Perlahan kuambil notebook dari tas. Setelah log in, kubuka e-mail dan melihat beberapa message yang belum kubuka. Kutelusuri satu-satu dan sekejap kemudian aku rasa dunia berhenti berputar! Jantungku terasa berhenti berdetak dan nafasku juga tercekat di tenggorokan. Mataku juga tak mau kalah, keduanya terbelalak tak percaya.

Aku jatuh lunglai…

Karena bahagia yang tak terkira..

Kulirik sekali lagi kalimat itu, dan kuulang-ulang terus di benakku..

“Miss Renata Tiara Dharmawangsa,

Congratulations, your application for scholarship in medicine course at University of Tokyo has been accepted.”

Alhamdulillah, aku mendapatkan beasiswa yang kuidam-idamkan dari dulu!
Kugenggam erat-erat notebook itu dan kusampaikan dengan gembira yang membuncah agar supirku itu menekan gas lebih kuat dan lebih kuat lagi. Aku ingin cepat sampai di rumah dan memeluk kedua orangtuaku!

Detik itu, betapa bahagianya aku..

Sampai tak pernah terpikirkan sebuah elegi yang akan setia menanti ketika aku bertemu dengan sebuah jiwa yang sempurna..

Jiwa yang dapat menghisap jiwa-jiwa hidup lainnya..
Jiwa yang dapat merengkuh kewarasanku..

Jiwa yang ada dia bersemayam di dalamnya..

*bersambung

-Istana Kahfiyaa-





Ashimoto….(Jejak Langkah)

17 06 2009

Tokyo, Oktober 2005.

I wish I could be your destiny.

Sayangnya, kata-kata itu tak berani kuungkapkan. Punggungmu itu hanya menjadi bayang semu yang kian sulit untuk direngkuh. Aku, yang akhirnya kalah, tetap menatap lama jejak-jejak langkah kepergianmu. Kau, dengan segala kemantapan hati, tetap melangkah menjauh untuk menyongsongnya, yang kau cinta.

Hati, kini telah menjelma menjadi segenap perasaan yang mencerminkan satu kata. Satu kata dan satu jiwa yang membuat lidahku kelu untuk mengatakannya. Kepadamu. Sekarang.

Ternyata.. Aku hanya menjadi sebuah isyarat dalam perjalananmu.
Ternyata.. Tidak pernah kau tangkap segenap jiwa itu.
Dan ternyata.. Ikhlas menjadi kata paling berharga juga paling menyakitkan bagiku..

Lupakanlah..
Lupakanlah aku..
Lupakanlah dia, wahai jiwaku..

Tokyo, Januari 2009.

Kota ini masih saja begitu dingin, membekukan ujung-ujung jari kaki dan tanganku. Pagi ini aku harus kerja sambilan di sebuah toko buku di ujung jalan kampusku. Salju bertumpuk begitu hebatnya sampai-sampai tiap rumah mengirimkan satu wakilnya untuk membantu membereskan semua ini. Aku menyuruh agar kakiku, langkahku ini, bergegas sampai ke toko buku itu. Kalau terlambat sepuluh menit saja, bisa dipotong gajiku yang tak seberapa untuk satu jam itu. Ketika sampai dan menginjakkan kakiku di trotoar depan pintu masuk toko itu, aku menghela nafas sebentar, sekedar mencari oksigen yang semakin menipis ketika aku memaksakan diri untuk berlari tadi. Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku, “huff, syukurlah masih ada lima menit sebelum jam delapan”, kataku dalam hati.

Menghadap lurus ke depan dan menarik gagang pintu agar terbuka untukku, aku masuk.

Dan seketika membeku.

Bukan karena salju ataupun hawa yang dingin tak bersahabat.

Tetapi, ada sesosok jiwa yang telah kulupakan..
Dengan raganya yang masih sama sempurna..

*bersambung…

-Istana Kahfiyaa-








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.