Ashimoto…..-2-

17 06 2009

Sebelum sempat bertemu pandang dengannya, tubuhku merosot dan hati ini menciut jadi kerdil, sekerdil-kerdilnya. Tanpa berpikir panjang, aku berbalik badan dan menarik gagang pintu sekali lagi, kali ini bukan untuk masuk namun mengembalikan jejak-jejakku ke tempatnya semula.

Aku tak peduli sepengecut apa diri ini yang tiada mampu menghadapi dirinya. Kupaksakan kaki ini untuk berpacu cepat dengan waktu, membiarkan hawa dingin merasuk dan menusuk kulit, hingga menembus tulangku yang rapuh. Tapi, ternyata hati ini jauh lebih rapuh, melapuk hingga ke dasar-dasarnya yang terkecil.

Aku merasakan diriku hendak jatuh, namun aku terlalu malu untuk jatuh. Akhirnya, aku sedikit bergembira ketika tahu telah sampai di sebuah taman, yang kutahu akan kutempuh dua kali lebih lama daripada sekarang di waktu-waktu biasa.

Saat berhasil mencapai bangku taman, aku memegang dada. Jantungku terasa telah bekerja keras, detaknya menyentakkanku dari ketakutan ini. Sambil menghela nafas sejenak, aku terdiam dan berusaha untuk tetap diam. Hening…

Seketika udara sekitar memiliki daya mahadahsyat yang sekonyong-konyong menyedotku. Hampa sekali rasanya pikiranku dan memori masa lalu pun tersingkap kembali…

Jakarta, Juni 2004.

Akhirnya, aku lulus SMA!! Alhamdulillah, tiga tahun yang panjang, melelahkan, namun juga menyenangkan telah dilalui! Perjuangan panjang yang benar-benar memberikan hasil sempurna. Pagi ini, aku bangun dengan wajar setelah tidur yang juga lelap seperti biasa. Tak ada firasat apapun tentang hari ini. Yang kutahu, hari ini adalah pengumuman kelulusan.

Aku tidak perlu tegang dan deg-deg-an walaupun ada sedikit rasa penasaran di benakku. Aku tahu siswa-siswa di sekolahku juga “seharusnya” tidak perlu takut, toh mereka sudah berani mencontek ketika ujian nasional. Pengawasnya pun berpura-pura tidak tahu. Sungguh perilaku yang memalukan.

Apa sih mau mereka? Ingin mendamprat keluhuran dunia pendidikan sepertinya. Jujur, aku muak dengan kebodohan watak para manusia yang tidak percaya pada dirinya sendiri, juga dengan merendahkan harga dirinya demi nilai yang seadanya. Mengorbankan waktu yang mereka sudah gunakan untuk belajar hanya karena krisis kepercayaan diri! Hahaha. Tawa sarkastis lagi-lagi muncul dari dalam pikiranku.

Entah kapan manusia-manusia ini dapat berpikir 100 tahun lebih maju. Yang kutahu lagi, rasanya hal ini sudah jadi budaya yang patut “dibanggakan”. Kalau alasannya solidaritas, aku pikir ini merupakan solidaritas terapuh yang pernah kusaksikan seumur hidupku!

Benar saja, ketika pengumuman kelulusan digaungkan, semua siswa sekolahku berhasil lulus. Entah dengan cara apa mungkin tidak ada yang peduli lagi. Aku hanya berlalu dengan senyum kecut.

Belum lagi selesai kepala sekolahku bicara, teman-temanku sudah berhamburan bersorak-sorai gembira. Mereka tahu hari ini adalah akhir dari segala penantian selama sebulan setelah ujian. Aku dapat mengerti karena aku juga merasa seperti telah terbebaskan dari kekang yang menjerat.

Aku ingin bebas..

Bebas mengarungi hidup dengan caraku sendiri..
Bebas berkelana mencari tujuan yang belum kudapatkan..

Dengan lantah gontai, aku sampai juga ke mobil. Supirku kelihatannya sudah lelah menunggu. Sambil berusaha duduk di mobil, aku merasa begitu lelah. Aku bersandar di kursi mobil. Terdiam sebentar, akhirnya tangisku pecah tak tertahankan lagi.

Dunia yang berputar di sekitarku seolah terlalu kejam..
Atau mungkinkah aku yang terlalu kejam pada diriku sendiri?

Tiga tahun ini aku terlalu memaksakan diriku untuk bekerja keras, memutar otak, dan setia menghabiskan waktu dengan buku. Teman-temanku datang dan pergi silih berganti, aku tak ambil pusing. Aku tahu pada saatnya nanti akan kutemukan pertemanan sejati yang tidak hanya datang saat suka, tapi juga seharusnya ada saat duka.

Perlahan kuambil notebook dari tas. Setelah log in, kubuka e-mail dan melihat beberapa message yang belum kubuka. Kutelusuri satu-satu dan sekejap kemudian aku rasa dunia berhenti berputar! Jantungku terasa berhenti berdetak dan nafasku juga tercekat di tenggorokan. Mataku juga tak mau kalah, keduanya terbelalak tak percaya.

Aku jatuh lunglai…

Karena bahagia yang tak terkira..

Kulirik sekali lagi kalimat itu, dan kuulang-ulang terus di benakku..

“Miss Renata Tiara Dharmawangsa,

Congratulations, your application for scholarship in medicine course at University of Tokyo has been accepted.”

Alhamdulillah, aku mendapatkan beasiswa yang kuidam-idamkan dari dulu!
Kugenggam erat-erat notebook itu dan kusampaikan dengan gembira yang membuncah agar supirku itu menekan gas lebih kuat dan lebih kuat lagi. Aku ingin cepat sampai di rumah dan memeluk kedua orangtuaku!

Detik itu, betapa bahagianya aku..

Sampai tak pernah terpikirkan sebuah elegi yang akan setia menanti ketika aku bertemu dengan sebuah jiwa yang sempurna..

Jiwa yang dapat menghisap jiwa-jiwa hidup lainnya..
Jiwa yang dapat merengkuh kewarasanku..

Jiwa yang ada dia bersemayam di dalamnya..

*bersambung

-Istana Kahfiyaa-

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.