Tokyo, Oktober 2005.
I wish I could be your destiny.
Sayangnya, kata-kata itu tak berani kuungkapkan. Punggungmu itu hanya menjadi bayang semu yang kian sulit untuk direngkuh. Aku, yang akhirnya kalah, tetap menatap lama jejak-jejak langkah kepergianmu. Kau, dengan segala kemantapan hati, tetap melangkah menjauh untuk menyongsongnya, yang kau cinta.
Hati, kini telah menjelma menjadi segenap perasaan yang mencerminkan satu kata. Satu kata dan satu jiwa yang membuat lidahku kelu untuk mengatakannya. Kepadamu. Sekarang.
Ternyata.. Aku hanya menjadi sebuah isyarat dalam perjalananmu.
Ternyata.. Tidak pernah kau tangkap segenap jiwa itu.
Dan ternyata.. Ikhlas menjadi kata paling berharga juga paling menyakitkan bagiku..
Lupakanlah..
Lupakanlah aku..
Lupakanlah dia, wahai jiwaku..
Tokyo, Januari 2009.
Kota ini masih saja begitu dingin, membekukan ujung-ujung jari kaki dan tanganku. Pagi ini aku harus kerja sambilan di sebuah toko buku di ujung jalan kampusku. Salju bertumpuk begitu hebatnya sampai-sampai tiap rumah mengirimkan satu wakilnya untuk membantu membereskan semua ini. Aku menyuruh agar kakiku, langkahku ini, bergegas sampai ke toko buku itu. Kalau terlambat sepuluh menit saja, bisa dipotong gajiku yang tak seberapa untuk satu jam itu. Ketika sampai dan menginjakkan kakiku di trotoar depan pintu masuk toko itu, aku menghela nafas sebentar, sekedar mencari oksigen yang semakin menipis ketika aku memaksakan diri untuk berlari tadi. Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku, “huff, syukurlah masih ada lima menit sebelum jam delapan”, kataku dalam hati.
Menghadap lurus ke depan dan menarik gagang pintu agar terbuka untukku, aku masuk.
Dan seketika membeku.
Bukan karena salju ataupun hawa yang dingin tak bersahabat.
Tetapi, ada sesosok jiwa yang telah kulupakan..
Dengan raganya yang masih sama sempurna..
*bersambung…
-Istana Kahfiyaa-
bu
seng
ini baru bikin lo chuuuy?
Ini proyek udah diomongin gw (Mecy) sama Tya dari sebelum sel gen cha. baru terealisasi skarang. Tya duluan yg mulai, dia nyeritain dari sisi cewenya. Gw dari sudut pandang cowonya. hahaha dasar jiwa gw emg maskulin kali yeee hoho. Lo hrs jd pembaca stia ya cha! ntar siapa lg yg mau baca kalo bkn lo wakakaka :p