” Koko ni itekurete..1” Suara lembut di belakangku membuat langkahku tertegun. Seketika dadaku terasa panas, rasanya darah yang terpompa oleh jantungku mendidih dan menyayat pembuluh darahku bagaikan lahar panas. Derasnya hujan yang menghantam tubuhku seakan luruhan air mendidih membakar kulitku.
Kupejamkan mataku…dengan segenap jiwaku kutahan keinginanku untuk membalikkan tubuhku dan menghadapi gadis yang baru saja mengeluarkan kata-kata yang membuat hatiku berdenyut menyakitkan… Kuharap suara petir yang menyambar dan tetesan hujan di rumput sekelilingku dapat menyembunyikan teriakan memilukan jiwa ini..
Aku tetap berdiri dalam diam…mencoba mengatur nafasku yang mulai tak beraturan…Dan aku mendengarnya….Meskipun ia mencoba menahan tangisnya, namun bisa kurasakan keputus asaan dari isakan lembutnya. Aku mulai goyah..Pertahananku hampir jebol. Suara tetes-tetes hujan yang mengguyur rumput-rumput di sekelilingku seakan menertawakan kelemahanku..Cahaya kilat yang menari-nari di langit seakan tersenyum puas melihat ketidak berdayaanku.. Namun sekali lagi kukatupkan erat-erat jari-jariku ke dalam telapak tanganku Aku pun menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku di antara rambutku yang sudah basah dan jatuh terkulai lemas seperti tirai yang menutupi sebuah kebohongan besar di dalamnya..
Kufokuskan indra pendengaranku pada suara hujan yang mengguyur bumi. Kututup rapat indra imajinasiku yang membayangkan wajah rapuh gadis di belakangku..gadis yang berhasil memutarbalikkan isi organ-organ di tubuhku ketika menatapnya….gadis yang mampu menarik sel-sel yang ada di tiap jengkal tubuhku hanya dengan huruf-huruf yang ia lantunkan dari bibirnya..gadis yang sesungguhnya ingin kumiliki.
“Aku mohon..setidaknya jujurlah pada dirimu sendiri..jujurlah dalam membaca perasaanmu..jujurlah dalam mengartikan hatimu…” gadis itu kembali bersuara. Suaranya yang lembut terdengar merintih..seperti suara manusia yang tidak berdaya dan memohon belas kasihan orang yang paling keji. Dan orang yang keji itu…adalah aku.
Lagi-lagi aku tetap diam..mencoba mempertahankan jejakan kakiku pada dalamnya genangan air yang mulai meresap masuk membasahi kakiku.Diam-diam kunikmati dinginnya air yang menyentuh jari-jariku. Mencoba mencari ketenangan jiwa di antara pertengkaran yang terjadi di dalam otakku. Berusaha melawan musuh besarku dengan akal sehatku.Ya, aku harus melawan diriku sendiri dengan akal sehatku. Aku harus mampu merobek harapan kosong ini menjadi sebuah realita, aku harus bisa meleburkan hasrat gila ini menjadi abu-abu fakta yang hancur berkeping-keping.
“Kenapa?Kenapa kamu melakukan ini semua padaku?Apa ada yang salah denganku?” Tangisnya kini tak sanggup ia bendung. Suaranya bergetar, mengoyak sisa-sisa jiwaku yang telah retak dan tak bernyawa. Isakannya semakin jelas menyelusup ke ruang-ruang hampa tubuhku. Kali ini aku membuka mataku..Memberanikan diri menatap bayangan yang terpantul samar di antara genangan air di hadapanku. Kupicingkan mataku, mencoba melindungi bola mataku dari aliran air hujan yang membuat mataku perih. Dan bayangan itu pun terlihat..bayangan sesosok laki-laki menyedihkan yang hanya bisa diam dan berdiri kaku di tengah serbuan hujan. Yang hanya sanggup lari..lari dari sebuah keputusan dan resiko. Lari karena ketakutannya..bersembunyi dari kekalahannya..Bayangan itu balik menatapku. Dan seketika aku merasa jijik..jijik melihat sosok menyedihkan itu. Kupalingkan wajahku, dan menatap lurus ke depan. Menantang kekosongan di hadapanku.
Jalan di hadapanku begitu lengang..Taman itu seakan tak memiliki kehidupan.Tak ada satu sosok pun yang rela membiarkan dirinya terguyur hujan yang turun tanpa ampun . Hanya ada bangku taman kosong di sampingku yang berpijak tenang. Kayunya tampak lapuk dan ringkih. Catnya mengelupas, seakan menyatakan bahwa keberadaanya sudah menahun dan telah bertahan dari terpaan musim-musim yang berganti. Selebihnya..hanya jalan memanjang yang terbentang..Dengan pagar taman di kanan kiri yang membatasi tempatku berdiri dengan rumput hijau yang berwarna hijau gelap karena ternaungi mendungnya langit. Pohon-pohon rindang di seberang pagar berayun sendu, membiarkan dirinya dibuai angin yang bersiul. Aku kembali menatap jalan di hadapanku. Mencoba mencari ujung dari jalan ini. Mencoba melawan penglihatanku yang semakin kabur. Berharap..entah bagaimana caranya, aku bisa bisa tiba disana. Sampai di akhir jalan itu, menyelesaikan semuanya..Menyudahi semuanya..Bersembunyi dari semua ini.
Aku pun sadar. Akulah yang harus menyelesaikannya..tak peduli bagaimana akhirnya, bagaimana permulaannya, bagaimana perjalanannya. Akulah yang harus memilih dan memutuskan..meski aku tau, jika aku melakukannya.. kebencian pada nyawa ini tidak akan pernah berakhir. Lagi..aku menatap bangku taman yang kosong itu. Berusaha mencari-cari kekuatan semu yang ada di balik kerapuhannya.. Kekuatan untuk melukainya. Kekuatan untuk menjadi makhluk Tuhan yang paling hina.
Kutahan nafasku selama 3 detik, berharap udara di dalam paru-paruku dapat mengisi kekosongan jiwaku. Berharap oksigen yang terkumpul di dalam tubuhku dapat mengokohkan tekad dan keberanianku.Berharap suara-suara yang menyambar di kepalaku dapat terkunci diam dan tak bergerak.
“Gomenne….2”
Singkat..Kukuatkan suaraku meski terdengar sedikit gemetar Hanya itu yang sanggup menari keluar dari mulutku. Hanya sebuah kata itu yang mampu kususun di dalam otakku yang tak henti-hentinya meraung.Lalu kulangkahkan kakiku yang berat ini menjauh darinya..Dan sayup-sayup kudengar rintihan memilukan itu kian menjauh..Dan diantara rinai hujan yang dingin dan membasahi wajahku, dapat kurasakan setetes rasa hangat yang mengalir diantaranya..
———————————————————————————————————————————————————————————–
Tokyo, Juni 2004
Seperti biasa, aku terbangun oleh alarm telepon genggamku dengan rasa sakit kepalaku yang kian menjadi. Tanpa mengangkat kepalaku dari empuknya bantal, tangan kananku menggapai-gapai setengah hati ke meja kecil di sebelah ranjangku. Dan aku menemukannya, sumber dari bunyi yang membangunkanku di tiap pagi. Bunyi yang menandakan mulainya realita kehidupan.Bunyi yang selalu menyadarkanku dari kabut mimpi yang selalu menemaniku selama 2 tahun..Bunyi yang menyelamatkanku dari mimpi yang selalu berakhir sama. Bunyi yang seakan selalu memaki jalan hidupku. Kuraih telepon genggamku dan kumatikan alarmnya.
Aku tidak segera bangun dari posisiku. Kubiarkan diriku terbungkus dalam balutan hangatnya selimut untuk beberapa menit. Mataku menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih terang. Sensasi yang sangat kusukai. Rasanya semua lelah, masalah, ketidak pastian, dan segala emosi seperti terserap habis oleh warna putih itu. Kulirik jam dinding yang kacanya sudah retak itu di dinding sebelah kanan kamarku. Jam 07.50. Namun tampaknya langit belum mau mengijinkan matahari untuk menyembul sempurna di balik awan-awan. Mendung…dan akan hujan. Argh…aku benci Tsuyu3.
Aku pun bangkit dari posisi malasku. Aku masih memiliki waktu sekitar 45 menit untuk bersiap-siap. Acara pembekalan untuk mahasiswa tingkat 5 sebelum memasuki clinical training akan dilakukan pukul 09.00. Untung saja apartemenku sangat dekat dengan kampusku, 10 menit berjalan saja aku sudah tiba di kampusku. Dengan langkah sedikit terhuyung aku berjalan menuju dapur. Hampir saja aku tersandung buku-buku teks rujukan yang kubiarkan berserakan di lantai kamarku.Kubuka laci dapur, dan kuambil satu sachet kopi instan dan menyeduhnya. Sediaan kopiku tinggal 1 sachet lagi, aku lupa pergi ke mini market untuk membeli keperluanku setelah 2 bulan penuh disibukkan oleh penelitian ilmiahku. Aku benar-benar dikejar waktu pada waktu itu. Laporan penelitianku harus selesai dalam tenggat waktu 2 bulan, kalau tidak aku tidak bisa meneruskan pendidikanku ke jenjang clinical training..
Selama 2 bulan yang kulakukan hanya bolak-balik kampus, apartemen, perpustakaan dan sesekali menghadap dosen pembimbing. Rasanya lega sekali setelah menyelesaikan laporan penelitianku dan disetujui oleh dosen pembimbing. 3 minggu yang lalu aku pun akhirnya melaksanakan sidang dan Alhamdulillah aku lulus sidang dengan predikat cumlaude.
Tapi kelegaan itu sebenarnya belum sepenuhnya. Karena meskipun aku telah lulus sidang dengan nilai yang alhamdulillah cukup pada pre-clinic years. Aku masih harus berjuang lagi di clinical training, atau biasa mahasiswa di sini menyebutnya masa internship. Dan justru inilah perjuangan yang sebenarnya. Aku harus bisa menggunakan segala ilmu yang telah kutelan selama 4 tahun di University of Tokyo, Faculty of Medicine secara aplikatif kepada pasien. Inilah saat-saat pembuktianku. Saat-saat dimana semua obsesi dan ambisiku semakin dekat dan dapat segera kuraih dengan tanganku. Saat-saat di mana segala pilihan yang kutetapkan dapat membuahkan hasil yang nyata. Saat-saat dimana aku bisa membungkam semua mulut yang mencibir dan meragukan kredibilitasku sebagai mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa untuk mengenyam pendidikan di negara matahari terbit karena tetesan keringat sendiri. Mereka selalu menganggap segala kemudahan dalam pendidikanku dapat aku raih dengan mudah karena ayahku adalah salah seorang penting di negaraku. Mereka pikir, aku akan menghamburkan kekayaan orang tuaku untuk mendapatkan semua yang aku mau. Tapi nyatanya, aku justru menolak untuk berkuliah di universitas negeri terbaik di negaraku meskipun rektor dari universitas itu adalah rekan ayahku. Aku justru ngotot untuk mengajukan beasiswa ke universitas di negara lain. Alasannya? Selain karena memang aku ingin membuktikan kemampuanku berprestasi dengan ”kekuatanku sendiri”, aku juga ingin bebas. Bebas dari segala belenggu kehidupan yang menjijikkan. Bebas dari tatapan orang-orang yang memandangku seakan aku anak yang butuh kasih sayang dan perhatian. Bebas dari keharusan untuk menyaksikan perempuan yang silih berganti datang ke rumahku. Bebas dari segala imajinasi kotor yang menghantui tentang bagaimana ayahku memuaskan nafsunya dengan menghamburkan harta-hartanya untuk wanita-wanita hina yang mengemis dan rela menyuguhkan tubuhnya hanya untuk secarik kertas cek.
Kulirik jam dinding di dapur. Pukul 08.15. Segera kuhirup sisa kopiku, dan kuletakkan cangkir kopiku di dekat wastafel bersama tumpukan pring-pring dan gelas-gelas yang masih sangat kotor. Aku memutuskan untuk mencucinya sepulang dari kampus saja. Keputusan yang sama di hari-hari sebelumnya. Kuambil handuk dari lemari pakaianku dan aku segera mandi.
Jam menunjukkan pukul 08.30. Kubuka lemari pakaianku dan kucari pakaian yang selalu menggodaku untuk mengenakannya setiap kali aku membuka lemari sambil berusaha mengenakan arloji. Dan sekarang aku benar-benar boleh mengenakannya. Bahkan wajib mengenakannya. Aku pun menemukannya. Berkilat penuh kemenangan di antara jas-jas dan jaketku yang sebagian besar berwarna gelap. Aku tak bisa menahan senyum.Akhirnya…….
Kuambil snelyku yang masih sangat bersih dan mulus itu. Rasanya baru kemarin aku melalui proses yang panjang demi mendapatkan beasiswa dari universitas terbaik di Jepang ini. Aku harus mengikuti kursus bahasa jepang selama setahun setiap pulang sekolah, aku harus bolak-balik Tokyo – Jakarta untuk mengikuti tes seleksi yang diadakan Association of International Education, Japan (AIEJ) di Tokyo, juga Japanese Language Proficiency Test. Kemudian aku harus mengikuti wawancara dan tes selanjutnya yang diadakan University of Tokyo. Bnear-benar proses yang panjang. Aku pun tadinya tidak percaya akan mendapatkan beasiswa dari universitas ini. Namun tampaknya Allah memudahkan jalan untukku. Dan aku ingat betul, rasanya organ-organ di tubuhku melemah saking tak percayanya ketika kubuka emailku dan membaca pemberitahuan yang menyatakan bahwa aku berhasil mendapatkan program beasiswa di Fakultas Kedokteran University of Tokyo ini.
Dering telepon genggamku lagi-lagi mengagetkanku. Kulipat snelyku dengan hati-hati lalu memasukkannya ke dalam tasku. Lalu kujawab segera dering telepon genggamku tanpa melihat siapa yang meneleponku.
”Moshi-moshi..4”
”Yaa Satya ..doko ni oru n?? 5” suara di seberang telepon menjawab dengan logat Kansainya yang kental. Aku langsung mengenali suaranya.
“Boku wa mada apaato de. Doushita no, Kazuo ?6” jawabku seraya memasukkan organizer dan buku petunjuk internshipku ke dalam tas.
“Aku sudah bicara dengan pamanku mengenai ketertarikanmu mengikuti penelitian departemen cardiothoracic surgery tentang Aortic Root Replacement. ..…” Suara Kazuo terdengar agak sedikit berteriak karena dia harus mengimbangi keramaian suara di sekelilingnya. Dari keramaiannya aku bisa menebak Kazuo sudah tiba di aula kampus, tempat di mana acara pembekalan akan berlangsung.
Jantungku berdetak kencang mendengar berita yang disampaikan Kazuo. Rasanya antara takut dan tak sabar mendengar kelanjutannya.
“Soshite…?7“ tanyaku ragu-ragu.
“Pamanku kemudian membaca CVmu dan dia tertarik, apalagi setelah melihat transkrip nilaimu. Dan coba tebak…siang ini,, dia ingin menemuimu” katanya riang.
“hontou ka yo??8” dengan susah payah aku berkata..rasanya semua udara terperangkap di dalam kerongkonganku.
“So-9 …jadi setelah pembekalan nanti, kamu ikut denganku. Kita akan makan siang dengan pamanku.” tambahnya
”Alhamdulillah…….. Sore wa subarashii !Arigatou na..10 ” aku tersenyum sumringah. Aku sangat bersyukur paman dari Kazuo yang merupakan staf departemen bedah thorax dan cardiovascular di The University Hospital mau meluangkan waktunya untuk bertemu denganku yang hanya merupakan seorang mahasiswa dari Indonesia yang masih menjalani internship dan memiliki mimpi untuk menjadi Dokter Bedah Thorax dan Kardiovaskular. Semangatku pagi itu langsung membumbung tinggi.
“Ah..tak usah berterima kasih. Kita kan teman..dan kamu pantas mendapatkan kesempatan itu. Kamu kan salah satu mahasiswa cemerlang. Dan usahamu selama inilah yang membuahkan hasil. Ya sudah..cepat kamu kesini. 15 menit lagi acara akan dimulai. Isoge yo! 11” Kata-kata Kazuo menyadarkanku untuk segera berangkat ke kampus. Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi kepada Kazuo aku segera meraih tasku dari meja.
Dan seperti biasa, aku kembali termangu sejenak ketika melihat benda itu. Benda yang selalu menetap di meja belajarku. Benda yang selalu ada ketika aku terikat pada kesendirianku. Benda yang selalu mengingatkanku akan ketetapan hatiku, tujuanku, dan tekadku. Sebuah bingkai foto kayu yang telah lapuk yang didalamnya terdapat foto wanita muda dan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 6 tahun di sebuah taman yang rindang. Wanita itu tersenyum lepas seraya mengangkat anak laki-laki itu setinggi-tingginya. Senyumnya menenangkan jiwaku yang telah rusak. Tawanya menyejukkan hatiku yang telah mati.
Aku menatap foto itu lekat-lekat, dan tersenyum pada wanita di foto itu. Wanita yang menjadi alasanku bertahan di sini. Yang membuatku memilih untuk sampai disini. Mengejar mimpiku..meraih obsesiku. Yang melahirkan ambisiku untuk menjadi seorang ahli bedah thorax dan kardiovaskular. Wanita yang paling kurindukan, Ibuku.
Dari jendela kamarku, awan sudah mulai meneteskan rintik-rintik hujan yang semakin deras. Aku memutuskan untuk mengambil payung yang sesungguhnya sudah tak layak pakai lagi karena kawat-kawatnya sudah mencuat keluar yang biasa kuletakkan di dekat pintu. Kemudian aku pun beranjak dengan mantap. Kuputar gagang pintu apartemenku dan janji itupun kuucapkan lagi diam-diam di dalam hati. Aku akan mendapatkan tujuanku. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku selain Allah. Aku tidak akan berhenti mengerahkan seluruh tenaga dan tiap tetes keringatku untuk mendapatkannya. Walaupun waktuku tak banyak..Meskipun aku tidak tau apakah aku akan sempat mengumandangkannya dengan lantang..
*bersambung
– Rasphamelsia–
1 ”Tetaplah disini”
2 ”Maaf”
3 Musim Hujan di Jepang yang berlangsung dari sekitar bulan Mei hingga Juli.
4 Halo
5 ”Satya, kamu ada dimana?”
6 ”Aku masih di Apartemen, ada apa Kazuo?”
7 ”Lalu?”
8 ”Kamu serius?”
9 ”Sungguh..”
10 ”Itu kabar yang sangat menggembirakan! Terimakasih ya”
11 ” Ayo cepat!”
bagus..
walaupun ceritanya bersambung ada sinergi yg membuat tulisannya gak membosankan..
runut dan menggunakan gaya sastra yg mudah dipahami pembaca..
yg kurang adalah membuat perasaan pembaca hanyut dalam klimaks cerita dan latarnya(*kl latar brarti udah pernah ke sana)..
semoga sambungannya lebih baik!
good job for maissy & tya..
Makasih buat kritik dan sarannya ^_^. Iya, kami masih banyak kekurangan nih…masih harus blajar banyak hehe. Insya Allah untuk selanjutnya akan lebih baik lg. maksih ya..ditunggu terus saran2nya hehe. smangaat !!:)
best regards,
A.I.F. & P.A.D.P
messy sm tyaa…harus sering2 diskusi yaa…
jaraang lho bahkan mngkn ngga ada yg buat novel dengn duet combo gini…
kelebihannya bisa bervariasi jadi ngga bosen dlm penyuguhan…
kelemahan tp pasti bs diatasi klo kamu, mesy dn tyaaa, harus sering2 diskusi biar klop ceritanya mau dibawa kemana…
pasti bisa…
buat berbeda..
cetak sejarah..
duet maut bidadari penulis…
istanakahfiyaa dan rasphalmesia…
berikan novel terbaik sepanjang peradaban..hahaha lebay yaaa…
tapi bukannya ngga mungkin..insyaAllah bisaa..amiiin ^_^
bagus, cerita-nya bagus. membuat pembacanya penasaran untuk cerita selanjutnya.
mungkin latar-nya yang lebih di perjelas saja.
hehehe, 2 ide 1 cerita. pasti akan jadi cerita yang sangat bagus dan menarik. di tunggu draft selanjutnya yaaaaaaaaa!!